You are currently browsing the category archive for the ‘Paradigma’ category.
“MLM ngenakin yang di atas…”
Sebenarnya, pekerjaan atau usaha apa pun yang kita lakukan adalah untuk diri kita sendiri, untuk keluarga kita, anak kita, pasangan hidup kita, orang tua kita, saudara kita, lingkungan kita, dan seterusnya…
Jika pun pekerjaan atau usaha yang kita lakukan membawa dampak positif kepada atasan kita, manager kita, direktur kita, para pemegang saham perusahaan dimana kita bekerja, mitra kita atau siapa pun yang ada di sekitar kita, apakah itu salah ?
Dalam perusahaan marketing, semua posisi memiliki porsi masing-masing. Baik supervisor, manager atau direktur sama-sama menikmati komisi dari penjualan yang dilakukan oleh seorang sales lapangan.
Dalam usaha MLM, seorang up line jauh lebih berat pekerjaannya dibandingkan supervisor, manager atau direktur di perusahaan marketing konvensional. Mengapa ?
Karena seorang up line di MLM memiliki ruang lingkup pekerjaan yang lebih luas, yakni : pengembangan SDM, pengetahuan produk, strategi pemasaran, networking, capital management, dan lain-lain, semuanya dilakukan dengan modal sendiri, baik modal uang maupun modal pikiran dan tenaga.
Dengan begitu, wajar jika buah dari kerja keras seorang pelaku MLM ketika grupnya sudah hidup dan berkembang adalah pemasukan yang sangat besar yang berlipat-lipat dibandingkan seorang direktur di perusahaan konvensional.
Harus diingat, pemasukan seorang top leader MLM juga ditentukan oleh produktifitas grup yang dipimpinnya. Jika grup itu kuat dan semakin besar, maka pemasukannya semakin bertambah besar, namun jika grupnya diam dan kurang produktif, maka penghasilan seorang top leader menjadi tidak banyak meningkat.
Dalam hal ini, banyak pakar bisnis yang berkata : “MLM itu adalah bisnis leadership dan bisnis motivasi serta bisnis transformasi diri, baik dan buruknya produktifitas grup juga ditentukan oleh citra personal dari seorang top leader juga seminar pembinaan yang dilakukannya…”
Seorang top leader yang sudah sukses harus menjadi cermin bagi masyarakat/grup yang dipimpinnya. Kejujuran, kesederhanaan dan spiritualitasnya dipertaruhkan. Ini yang membuat MLM menjadi tempat dijunjung tingginya kejujuran, sportifitas dan personality skill seseorang.
Dalam perusahaan marketing konvensional, tidak ada yang bisa mengontrol personality seorang atasan, sehingga banyak atasan yang lupa daratan ketika sukses besar, perilakunya lost dan sering terjebak dunia hitam dan dunia malam.
Jadi…? Bagaimana menurut anda ?
Masih menganggap bahwa MLM itu seperti setan yang menakutkan ?… monster yang menyeramkan atau penjahat yang suka menipu ? Harus diakui bahwa MLM masih menjadi MITOS NEGATIF kebanyakan masyarakat di negeri ini. Maklum, di negeri ini masih banyak orang yang ingin kaya mendadak tanpa proses, sehingga mudah terjebak dengan rayuan gombal pelaku money game yang berkedok MLM, akibatnya MLM menjadi korban dan citranya menjadi buruk karena ulah tipu-menipu mereka. Sebagai masyarakat terpelajar dan intelektual, seharusnya kita bisa dengan terbuka mencari tau apa itu MLM ? Karena di beberapa negara maju dan negara tetangga, MLM sudah menjadi solusi bagi banyak orang untuk membangun dan memiliki passive income. Bahkan di negeri ini, sudah banyak orang yang sukses besar dan berubah hidupnya melalui MLM.

Komentar Terakhir