You are currently browsing the daily archive for Maret 11, 2008.
“Harga produk MLM mahal, supaya bisa ngasih komisi membernya…”
Betul, harga produk MLM sedikit lebih tinggi dari produk retail yang di jual bebas, tapi tidak semua MLM menentukan harga jual produk yang lebih tinggi karena untuk memberikan komisi lebih besar kepada member atau distributornya.
Di negeri ini, memang cukup banyak MLM yang menjual produk dengan harga lebih tinggi dari harga produk retail, karena untuk memberikan komisi lebih besar kepada member/distributornya, tetapi dalam waktu yang tidak lama, masyarakat akan bisa menilai dan akan pergi meninggalkan mereka.
Usia MLM ini biasanya tidak lama, mereka hanya ingin memanfaatkan momentum, setelah itu “sengaja” pergi atau mati ditinggalkan konsumen, banyak fakta terjadi di lapangan, produk yang mereka jual ternyata tidak lebih baik dari pada produk retail bahkan ada yang lebih buruk (menipu).
MLM yang telah solid dan established, tidak serta merta menentukan harga jual karena harus menyisihkan harga jual untuk komisi membernya, tetapi didasarkan oleh banyak faktor.
Harga produk yang dibuat berdasarkan pertimbangan KUALITAS, NILAI EKONOMIS, GARANSI, MASA EXPIRED, dan selalu didasari oleh hasil riset teknologi yang panjang dan akurat.
Setiap produk yang dipasarkan harus BERMUTU TINGGI dan dibutuhkan masyarakat, dengan kata lain, produknya selalu berbasis TEKNOLOGI dan tidak latah dengan keinginan pasar, sehingga produk tersebut memiliki positioning dan segmentasi tersendiri, dan disitulah peluangnya.
Komisi yang didapat oleh member/distributor juga realistis, tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, sebagaimana “MLM musiman” tadi, mereka biasanya menjanjikan komisi sangat besar dan peluang kenaikan posisi yang sangat luas.
Sedangkan komisi yang berlipat-lipat dan sangat besar, yang diperoleh oleh member/distributor “MLM beneran” disebabkan karena produktifitas grup yang berada di bawahnya yang berhasil dibangun olehnya.
Selain itu, perusahaan “MLM beneran” tidak mengalokasikan dan mengeluarkan anggaran untuk kegiatan promosi, distribusi, pelatihan SDM serta display produk seperti perusahaan konvensional.
Karenanya, wajar jika perusahaan “MLM beneran” dapat memberikan komisi besar kepada up line atau top leader, yang anggarannya diambil dari keempat faktor tersebut.
Dan memang sangat wajar, karena seorang up line dan top leader berfungsi pula sebagai agen promosi, orginizer, pelaku sekaligus penanggung jawab training, serta network builder bagi perusahaan.
Bagaimana pandangan anda ?
“MLM ngenakin yang di atas…”
Sebenarnya, pekerjaan atau usaha apa pun yang kita lakukan adalah untuk diri kita sendiri, untuk keluarga kita, anak kita, pasangan hidup kita, orang tua kita, saudara kita, lingkungan kita, dan seterusnya…
Jika pun pekerjaan atau usaha yang kita lakukan membawa dampak positif kepada atasan kita, manager kita, direktur kita, para pemegang saham perusahaan dimana kita bekerja, mitra kita atau siapa pun yang ada di sekitar kita, apakah itu salah ?
Dalam perusahaan marketing, semua posisi memiliki porsi masing-masing. Baik supervisor, manager atau direktur sama-sama menikmati komisi dari penjualan yang dilakukan oleh seorang sales lapangan.
Dalam usaha MLM, seorang up line jauh lebih berat pekerjaannya dibandingkan supervisor, manager atau direktur di perusahaan marketing konvensional. Mengapa ?
Karena seorang up line di MLM memiliki ruang lingkup pekerjaan yang lebih luas, yakni : pengembangan SDM, pengetahuan produk, strategi pemasaran, networking, capital management, dan lain-lain, semuanya dilakukan dengan modal sendiri, baik modal uang maupun modal pikiran dan tenaga.
Dengan begitu, wajar jika buah dari kerja keras seorang pelaku MLM ketika grupnya sudah hidup dan berkembang adalah pemasukan yang sangat besar yang berlipat-lipat dibandingkan seorang direktur di perusahaan konvensional.
Harus diingat, pemasukan seorang top leader MLM juga ditentukan oleh produktifitas grup yang dipimpinnya. Jika grup itu kuat dan semakin besar, maka pemasukannya semakin bertambah besar, namun jika grupnya diam dan kurang produktif, maka penghasilan seorang top leader menjadi tidak banyak meningkat.
Dalam hal ini, banyak pakar bisnis yang berkata : “MLM itu adalah bisnis leadership dan bisnis motivasi serta bisnis transformasi diri, baik dan buruknya produktifitas grup juga ditentukan oleh citra personal dari seorang top leader juga seminar pembinaan yang dilakukannya…”
Seorang top leader yang sudah sukses harus menjadi cermin bagi masyarakat/grup yang dipimpinnya. Kejujuran, kesederhanaan dan spiritualitasnya dipertaruhkan. Ini yang membuat MLM menjadi tempat dijunjung tingginya kejujuran, sportifitas dan personality skill seseorang.
Dalam perusahaan marketing konvensional, tidak ada yang bisa mengontrol personality seorang atasan, sehingga banyak atasan yang lupa daratan ketika sukses besar, perilakunya lost dan sering terjebak dunia hitam dan dunia malam.
Jadi…? Bagaimana menurut anda ?

Komentar Terakhir